Kawan Sejati

Perjuangkan Allah dan Kasih Sayang

Zat Yang Maha Suci

Ditulis oleh majalahkawansejati di/pada Februari 26, 2008

Bagaimanalah aku hendak melupakan Zat Yang Maha Suci

Yang kuasa-Nya tidak pernah satu detik terlepas dariku

Yang senantiasa mengetahui terus-menerus setiap gerakan jantungku

Ia senantiasa melihat hingga ke batinku

Senantiasa mendengar setiap waktu dan detik

Kehendak-kehendak-Nya ke atasku pasti berlaku

Baik aku setuju maupun tidak setuju

Menggembirakan maupun yang mendukacitakan

Ia Maha Agung, Maha Qahhar dan Maha Jabbar

Juga kasih sayang-Nya kepadaku lebih dari seorang ibu yang kasih kepada anak-anaknya

Seluruh hidupku di dalam genggaman-Nya

Ia dapat berbuat apa saja kepadaku

Kuasa-Nya ke atasku sepenuhnya

Tidak ada sama sekali campur tanganku ke atas diriku sendiri

Itulah Tuhan Pencipta seluruh alam dan yang menjadikan aku

Ia adalah Penyelamat

Pentadbir, Penjaga, Pendidik dan Pemelihara

Dengan penuh berhikmah

Oleh karena itu bagaimana aku mau melupakan-Nya

Sedangkan Dia tidak akan melupakanku

Walau sekadar sekelip mata

Aduh, tidak mungkin aku dapat melupakan-Nya

Tidak mampu aku untuk melupakan-Nya

Itulah Dia Tuhanku

Aku tidak dapat terlepas dari kuasa-Nya

Ditulis dalam Sajak | 1 Komentar »

Faktor Kemenangan Perjuangan Kebenaran

Ditulis oleh majalahkawansejati di/pada Februari 26, 2008

Kemenangan di dalam perjuangan kebenaran banyak faktor yang menentukan

Strateginya yang tepat, pengikut yang taat

Pemimpin yang berwibawa, bijaksana pula

Kegigihan di dalam perjuangan menentukan juga

Sabar dan berkorban salah satu syarat-syaratnya

Pandai membaca langkah-langkah musuhnya

Tidak boleh diabaikan juga

Berjuang terus-menerus tanpa henti-hentinya

Tapi faktor yang menjadi asas adalah taqwa

Setiap pejuang bersungguh-sungguh meninggalkan dosa

Di waktu malam menjadi rahib-rahib, di waktu siang menjadi singa-singa pejuang

Tapi penentu yang paling kuat

Ialah faktor janji dari Tuhan

Segala-galanya akan Allah siap dan lengkapkan

Allah Ta’ala akan memimpin para pejuang melengkapkan seluruh syarat-syaratnya

Allah mudahkan mencukupkan syarat-syaratnya terutama setelah disaring melalui ujian besar

Setelah itu bantuan dan pertolongan-Nya mencurah-curah

Dari langit dan bumi

Tanpa diduga-duga datangnya

Ditulis dalam Sajak | Tidak ada komentar »

Pembagian Manusia di Akhirat

Ditulis oleh majalahkawansejati di/pada Februari 26, 2008

Di dalam Al Quran Allah swt. telah berfirman:

“Setiap yang ada di atas muka bumi ini akan binasa dan yang kekal hanyalah Zat Tuhan yang Maha Mulia dan Maha Besar.” (QS. Ar Rahman: 27)

“Setiap yang bernyawa akan menemui kematian.” (QS. Al Anbiya: 35)

“Sesungguhnya mati yang kamu ingin lari darinya itu ia akan menemui kamu.” (QS. Al Jumu’ah: 8)

Demikianlah ketiga ayat di atas memberi pengertian kepada kita bahwa dunia ini dan juga kita akan mengalami kiamat. Sebelum dunia ini mengalami “kiamat kubra” (kiamat besar) maka secara berangsur-angsur dunia ini dikiamatkan secara kecil-kecilan, contohnya pohon yang tumbang karena badai, bangunan yang runtuh karena gempa bumi atau makhluk-makhluk Allah swt.. yang binasa dan musnah karena bencana alam.

Begitu juga manusia setiap hari ada yang menemui kematiannya. Adakalanya kematiannya disebabkan oleh sakit, tertabrak kendaraan, bunuh diri, peperangan dan berbagai bentuk lagi atau cara manusia menemui kematiannya.

Sudah menjadi “Sunatullah” bahwa Allah swt. hendak menjadikan sesuatu itu dengan sebab-sebab yang tertentu. Dan matinya manusia dengan berbagai cara itu diibaratkan sebagai kiamat secara kecil-kecilan untuk sementara menunggu kiamat besar.

Allah swt. telah mentakdirkan bahwa dunia iniq adalah negara sementara waktu yang tidak kekal bagi manusia. Manusia yang dilantik oleh Allah swt. di dunia ini adalah sebagai khalifah atau duta-Nya. Sementara itu, kehidupan manusia di dunia adalah sesuai dengan batas waktu yang telah ditetapkan oleh Allah swt.

Begitu juga Allah swt. telah menetapkan bahwa di samping dunia yang hanya untuk sementara waktu, ada Akhirat sebagai tempat yang kekal abadi. Manusia tidak menjadi warga negara dunia yang tetap, melainkan sebagai duta Allah swt. sebelum mengalami kehidupan Akhirat yang kekal abadi atau lebih tepat lagi bahwa manusia ini adalah warga negara Akhirat, sebab manusia akhirnya akan menuju juga ke Akhirat.

Siapapun juga orangnya, ia pasti akan menuju ke Akhirat. Yang suka akan sampai ke Akhirat, yang tidak suka pun pasti sampai juga ke Akhirat. Orang yang ingat kepada Akhirat akan pergi ke Akhirat, orang yang tidak ingat pun pasti akan pergi juga ke Akhirat.

Semua manusia akan menghadapi kehidupan di Akhirat, mau tidak mau. Oleh karena itu sewaktu kita diamanahkan sebagai duta atau wakil Allah swt. di atas muka bumi ini hendaklah kita mengatur diri kita, rumah tangga kita, ekonomi, pendidikan, politik, negara dan seterusnya alam sejagat, hingga sesuai dengan peraturan yang datang dari Allah swt.. Atau lebih tepat lagi hendaklah semua aspek berdasarkan kepada Al Quran dan sunnah Rasulullah SAW. Hal yang fardhu atau sunat hendaklah sungguh-sungguh ditegakkan. Begitu juga dengan hal yang haram dan makruh hendaklah kita jauhi sungguh-sungguh. Dan dari hal yang mubah hendaklah dijadikan sebagai amal bakti (ibadah) kita kepada Allah swt.

Apabila kita telah berhasil mengatur diri kita, rumah tangga kita, masyarakat kita dan seterusnya permasalahan alam sejagat dengan segala peraturan yang datang dari Allah swt., maka itulah yang dikatakan sebagai amal bakti atau amal sholeh.

Hal inilah yang hendak kita bawa dan kita persembahkan di hadapan Allah swt. di Akhirat nanti. Inilah yang dikatakan pengabdian diri kepada Allah swt. Sebuah konsep ibadah di dalam ajaran Islam adalah luas. Dan hendaklah kita ingat bahwa persoalan rukun iman yang lima itu adalah merupakan ibadah yang asas dan yang menjadi tapak dalam ajaran Islam.

Apabila setiap amal bakti kita, usaha dan ikhtiar kita baik kecil ataupun besar dan juga setiap perjuangan dan jihad kita sesuai dengan Al Quran dan Sunnah, maka itulah yang dikatakan sebagai amal taqwa. Amalan taqwa itulah yang merupakan bekal kita yang paling baik lagi teguh untuk menjalani kehidupan di Akhirat nanti, Ini bertepatan sekali dengan Firman Allah swt. yang artinya:

“Berbekallah, sebaik-baik bekal (untuk dibawa ke Akhirat) ialah taqwa.” (Al Baqarah: 197).

Amal taqwalah yang akan menyelamatkan kita dari Neraka dan sebab untuk kita masuk ke dalam Surga Allah swt. Oleh sebab itu hendaklah kita senantiasa membawa bekal sewaktu kita menjadi duta dan wakil Allah swt. di dunia ini. Apa saja pekerjaan dan perbuatan kita hendaklah dijadikan sebagai ibadah yang merupakan amalah taqwa.

Ketika dunia hendak dikiamatkan oleh Allah swt., maka di kala itu tidak terdapat seorang pun orang Mukmin, bahkan tidak ada seorang pun yang menyebut perkataan ‘ALLAH’. Mereka inilah yang akan di’kiamat-kubra’kan oleh Allah swt. nanti. Mereka akan terkejut menghadapi peristiwa kiamat yang begitu hebat sekali. Di waktu itulah “sangkakala” yang pertama ditiup. Maka di kala itu musnah, punah, dan huru-haralah bumi dan seluruh alam sejagat.

Ditiupnya sangkakala yang kedua menghidupkan seluruh makhluk yang bangkit dari kubur dalam keadaan tanpa berpakaian. Di samping itu manusia juga dihidupkan sesuai dengan tabiat atau perilaku mereka masing-masing sewaktu di dunia. Artinya bentuk dan rupa mereka mengikuti seperti apa bentuk kehidupan yang mereka jalani sewaktu di dunia ini.

Seandainya sewaktu hidupnya di dunia suka menipu, berdusta, pembelit seperti ular, maka ia akan dirupakan Allah swt. seperti ular. Jika tabiatnya sewaktu hidup seperti serigala, maka ia akan dibangkitkan seperti serigala. Jika hidupnya sewaktu di dunia seperti babi, maka ia akan dirupakan seperti babi juga. Begitu juga sekiranya hidup di dunia berperangai seperti anjing, maka ia akan dirupakan seperti anjing.

Setelah itu seluruh makhluk akan dihalau ke suatu padang yang dinamakan “Padang Mahsyar”. Yaitu suatu padang tempat berhimpunnya seluruh makhluk Allah swt. terutamanya manusia, yang dimulai dari Nabi Adam a.s hingga akhir manusia yang belum kita ketahui siapa adanya. Di Padang Mahsyar inilah berkumpulnya seluruh makhluk dan ini merupakan suatu perhimpunan raksasa yang belum pernah ada sebelumnya.

Karena begitu banyaknya makhluk yang berkumpul, menyebabkan keadaan saat itu amat berdesak-desakkan bahkan untuk duduk pun tidak bisa. Seperti tumpukan korek api yang penuh berada di dalam kotaknya. Ini disebabkan karena terlalu ketat dan padatnya manusia saat itu. Sementara matahari berada hanya sejengkal di atas kepala manusia. Maka sudah tentu suasana ini menimbulkan kesusahan dan kesengsaraan kepada manusia dan seluruh makhluk Allah swt.

Walaupun manusia seluruhnya di waktu itu dalam keadaan tanpa berpakaian, namun masing-masing tidak mempedulikan diri orang lain. Ini disebabkan oleh huru-hara dan kesulitan yang menimpa manusia. Manusia di kala itu hanya memikirkan diri mereka masing-masing karena amat bimbang dan takut menghadapi hari Akhirat.

Kemudian manusia yang begitu banyak itu dibariskan oleh Allah swt. sebanyak 120 barisan. Mungkin timbul di dalam pikiran kita, di antara 120 barisan itu berapa banyakkah yang matinya membawa iman? Sebab di dalam Al Quran Allah swt. menjelaskan:

“Sedikit sekali hamba-Ku yang bersyukur” (QS. Saba’: 3)

Sebenarnya, hanya tiga barisan saja di antara sekian banyaknya manusia yang matinya membawa iman. Inilah di antara mereka yang dianggap sebagai orang yang beriman. Sementara 117 barisan yang lain itu adalah terdiri dari orang-orang kafir dan mereka kekal di dalam neraka.

Jelaslah bahwa hanya tiga barisan saja yang membawa iman, sementara yang lainnya itu matinya dalam keadaan kafir dan menyekutukan Allah swt.

Oleh karena iman manusia di antara satu sama lain tidak sama, maka Allah swt. membagi tiga barisan ini kepada empat barisan pula atau kita katakan bahwa mereka yang mati membawa iman itu dibagi dalam empat golongan:

Golongan ‘bi ghairi hisab’ (golongan yang tidak dikenakan hisab)

Golongan ‘Ashabul yamin’ (golongan yang menerima suratan di tangan kanan)

Golongan ‘Ashabus syimal’ (golongan yang menerima suratan di tangan kiri)

Golongan ‘Ashabul A’raf’ (golongan yang berada di antara Surga dan Neraka)

Adapun golongan ‘bi ghairi hisab’ adalah terdiri dari para nabi dan rasul dan para aulia Allah (kekasih Allah). Para aulia Allah adalah mereka yang memang bersungguh-sungguh menjaga setiap perintah dan larangan dari Allah. Mereka begitu menjaga hal yang wajib dan sunat dan sungguh meninggalkan hal yang haram bahkan hal yang makruh pun mereka tinggalkan.

Para aulia Allah adalah mereka yang paling sabar dan senantiasa redha terhadap apa saja yang menimpa mereka. Hati mereka senantiasa baik sangka kepada Allah atas apa saja musibah yang menimpa mereka.

Selain dari itu, mereka yang termasuk dalam golongan ‘bi ghairi hisab’ ini adalah para syuhada (orang yang mati syahid). Mereka adalah golongan orang ‘Muqarrabin’ yang artinya orang yang sangat dekat dengan Allah swt. disebabkan pengorbanan mereka dalam menegakkan agama Allah swt. Bahkan nyawapun sanggup mereka korbankan semata-mata untuk mempertahankan agama Allah swt. Oleh sebab itu tidak heran mengapa mereka mendapat kedudukan yang begitu tinggi di sisi Allah swt.

Orang yang sangat sabar juga termasuk dalam golongan ‘bi ghairi hisab’. Sabar itu terbagi dalam tiga bagian:

Sabar melaksanakan perintah dari Allah swt.

Sabar menjauhi larangan dari Allah swt.

Sabar menghadapi segala ujian dari Allah swt.

Sabar melaksanakan perintah Allah swt. bukanlah suatu perkara yang mudah untuk dilaksanakan. Termasuk sabar melaksanakan perintah Allah swt. ialah seperti sabar mengerjakan shalat, berpuasa, berjuang, dan sebagainya. Semuanya itu bukan hal yang mudah untuk dilaksanakan. Sekiranya kita berhasil sabar melaksanakan perintah dari Allah swt., maka lebih sukar lagi bagi kita untuk sabar menjauhi larangan dari Allah swt. Terutama untuk bisa sabar menjauhi larangan Allah swt. pada maksiat pandangan mata.

Setelah kita bersabar terhadap segala larangan Allah swt., maka lebih sukar lagi bagi kita untuk sabar menerima ujian dari Allah swt. Kita dituntut untuk bisa sabar terhadap ujian-ujian dari Allah swt. kepada manusia seperti sakit, miskin, difitnah, kematian akan isteri, kematian ibu ayah dan sebagainya. Itu semuanya adalah ujian yang Allah swt. datangkan kepada manusia untuk menguji manusia, siapa di antara mereka yang paling baik amalannya di sisi Allah.

Manusia hendaknya bersabar dan redha terhadap ujian-ujian tersebut. Karena ujian yang Allah swt. datangkan kepada manusia itu hakekatnya adalah didikan secara langsung dari Allah swt. kepada hamba-Nya. Kebanyakan manusia dididik melalui manusia yang lain melalui zahirnya. Tetapi pada hakikatnya yang mendidik manusia adalah Allah swt. sendiri. Dan ujian-ujian yang menimpa manusia sebenarnya adalah didikan secara langsung dari Allah swt.

Oleh karena itu kita sebagai hamba-Nya hendaklah bersabar dan redha. Sebab sebagaimana yang kita tahu ujian-ujian yang datang dari Allah swt. sekiranya kita bersabar, sebenarnya ini merupakan kasih sayang dari Allah swt. kepada hamba-Nya. Hal itu juga merupakan penghapusan dosa dari Allah swt. sekiranya kita bersabar. Demikian juga ia merupakan derajat dan pangkat yang akan Allah swt. kurniakan bagi manusia yang mau menerima didikan secara langsung dari Allah swt. seperti ini.

Seringkali, apa yang manusia mau ialah didikan melalui manusia yang lain seperti dari para tuan guru, ustaz, alim ulama dan sebagainya. Kebanyakan manusia memang tidak menginginkan sama sekali untuk mendapatkan didikan langsung dari Allah swt. seperti ini karena tidak dapat bersabar dan redha menghadapinya.

Ingatlah, seandainya manusia tidak berhasil dididik secara langsung dari Allah swt., maka janganlah diharapkan ia berhasil untuk menerima didikan dari manusia yang lain. Oleh sebab itu kita melihat betapa kuatnya ujian yang menimpa para nabi dan rasul, karena sebenarnya itulah didikan secara langsung dari Allah swt. kepada mereka.

Oleh karena itulah tidak heran bagaimana kuatnya iman para nabi dan rasul semuanya. Sebab mereka menerima didikan atau pimpinan secara langsung dari Allah swt.

Jauh berbeda dengan keadaan kita yang justru tidak senang apabila menerima ujian dari Allah swt. sedangkan itu merupakan didikan secara langsung dari Allah swt. Sedangkan seandainya kita berhasil menghadapi itu semua, maka kita akan termasuk dalam golongan “Bi ghairi hisab” di Akhirat kelak.

Dan termasuk juga dalam golongan ini di Akhirat kelak ialah orang fakir yang bersabar dengan kefakirannya. Mereka ialah orang yang tidak mempunyai apa-apa pun harta benda di dunia. Apa yang ada pada mereka hanyalah pakaian yang sehelai sepinggang. Oleh sebab itu mereka tidak dihisab di Akhirat kelak. Bagaimana mungkin mereka akan dihisab sementara apa yang ada pada diri mereka hanyalah pakaian yang melekat di badan.

Di samping itu, termasuk dalam golongan ‘bi ghairi hisab’ ini ialah orang ahli makrifat. Yaitu orang yang begitu kenal dengan Allah swt. Oleh karena mereka terdiri dari orang yang kenal akan Allah, maka hati mereka setiap masa senantiasa ingat akan Allah swt. Hatinya juga setiap masa terasa hebat tentang kebesaran dan keagungan Allah swt. Begitu juga hatinya itu setiap masa senantiasa terasa rindu kepada Allah swt.

Apabila kita ukur diri kita dengan mereka, terasa sekali jauh perbedaannya. Mereka adalah orang yang senantiasa mengingati Allah swt., sedangkan kita senantiasa lalai dan durhaka kepada Allah swt. Bukan suatu hal yang mudah untuk senantiasa ingat akan Allah swt. Sedangkan sholat yang disebutkan oleh Allah swt. sebagai mengingati-Nya pun tidak dapat kita mengingat Allah swt., apalagi di luar sholat kita akan semakin tidak dapat mengingati Allah swt.

Jelaslah bahwa untuk menjadi ahli makrifat yaitu orang yang benar-benar kenal Allah swt. bukanlah suatu hal yang mudah. Ia merupakan suatu hal yang amat susah untuk dicapai oleh kita yang memang senantiasa lalai terhadap Allah swt.

Itulah di antara orang-orang yang termasuk di dalam golongan ‘bi ghairi hisab’ di Akhirat kelak. Cobalah ukur diri kita, apakah kita termasuk dalam golongan ini?

Adapun golongan ‘Ashabul yamin’ atau golongan orang yang menerima kitab dari tangan kanan ialah golongan orang-orang shaleh, abrar ataupun golongan ‘muflihun’. Adapun golongan ‘Ashabul yamin’ yaitu orang-orang yang memiliki sekurang-kurangnya Iman ayan dan mereka juga adalah orang yang amal kebajikannya melebihi kejahatannya. Sekalipun golongan ini terlepas dari azab neraka, namun mereka tidak terlepas menerima hisab dari Allah swt. Mereka agak lambat untuk menempuh ‘Shiratul mustaqim’ disebabkan oleh pemeriksaan terhadap mereka.

Diterangkan bahwa di atas titian ‘Shiratul Mustaqim’ terdapat lima tempat pemeriksaan. Dan lima tempat pemeriksaan itu dijaga oleh para malaikat yang tugasnya memeriksa setiap hamba Allah. Bayangkanlah bagaimana sekiranya kita terhenti di kelima tempat pemeriksaan itu? Sedangkan sehari di Akhirat dinisbahkan dengan hari dunia adalah selama seribu tahun.

Sebab itu tidak heran mengapa orang-orang ‘Muqarrabin’ itu tidak mau menjadi orang shaleh. Sebab orang shaleh, walaupun masuk ke Surga, terpaksa dihisab terlebih dahulu. Ini sudah tentu menyusahkan mereka. Sebab itu mereka lebih suka untuk mati syahid dalam mempertahankan agama Allah swt. Sebab orang yang mati syahid, langsung dimasukkan oleh Allah swt. ke dalam Surga.

Terpaksa terhenti untuk dihisab di ‘Shiratul Mustaqim’ adalah merupakan penderitaan dan azab bagi golongan muqarrabin. Oleh sebab itu di dalam kitab terutama kitab-kitab Tasawuf diterangkan bahwa kebaikan yang dibuat oleh orang abrar/orang soleh adalah merupakan kejahatan bagi golongan muqarrabin. Bagi golongan muqarrabin, sesuatu hal yang dianggap halal tetapi menyebabkan akan dihisab, itu adalah suatu kejahatan.

Untuk mengukur mudah atau tidaknya menjadi orang yang soleh, marilah kita lihat kenyataan Al Imam Ghazali. Al Imam Ghazali mengatakan bahwa orang yang hendak menjadi orang yang soleh itu mestilah 24 jam yang Allah swt. untukkan kepadanya, 18 jam diisi dengan amal baik. Hanya 6 jam saja waktunya itu digunakan untuk melakukan hal yang mubah.

Adapun golongan yang ketiga yaitu ‘Ashabul syimal’ yaitu golongan yang akan menerima kitab dari tangan kiri. Mereka ini ialah orang Mukmin yang ‘Asi’ atau Mukmin yang durhaka. Kejahatan mereka lebih berat dari kebaikan yang mereka lakukan. Mereka ini akan dimasukkan ke dalam Neraka dahulu, sebelum dimasukkan ke dalam Surga. Mereka dimasukkan ke dalam Neraka berdasarkan kepada dosa dan maksiat yang mereka lakukan. Setelah tamat penyiksaan mereka di Neraka, barulah mereka akan dimasukkan ke dalam Surga.

Adapun golongan yang akhir ialah golongan ‘Ashabul A’raf’ yaitu golongan yang amal kebaikan dan kejahatannya itu sama banyak. Golongan ini walaupun mereka selamat tidak masuk ke Neraka, tetapi mereka lebih lambat masuk ke Surga daripada golongan ‘Ashabul yamin’ yang setelah menempuh sirotul mustaqim, tidak ada halangan lagi untuk masuk ke Surga. Tetapi bagi golongan ‘Ashabul A’raf’, setelah mereka menempuh ‘Shiratul mustaqim’ mereka masih lagi dihadang untuk ke Surga.

Mereka akan didera atau dihukum oleh Allah swt. di ujung ‘Shiratul Mustaqim’. Bagaimana deraan Allah swt. terhadap mereka? Deraan yang dikenakan Allah swt. kepada golongan ‘Ashabul A’raf’ ialah mereka diperintahkan supaya meminta satu amal kebajikan kepada penghuni Surga. Siapa dari golongan mereka yang diberi oleh penghuni Surga satu amal kebajikan, maka dia diperbolehkan untuk masuk ke Surga. Maka mondar-mandirlah mereka untuk meminta belas kasihan penghuni-penghuni Surga. Setelah sekian lama, maka barulah Allah swt. masukkan ke dalam hati penghuni Surga untuk memberikan kepada mereka satu amalan kebajikan.

Tetapi anehnya, orang yang mempunyai banyak amal kebajikannya tidak mau langsung memberikan satu amalan kebajikannya kepada golongan ini. Sebaliknya mereka yang memberikan amal kebajikannya ialah orang yang mempunyai lebih satu saja amalan kebajikannya.

Maka Allah swt. pun berfirman kepada golongan ini yang antara lain,

“Sekiranya kamu hamba-hamba-Ku yang mempunyai lebih satu amalan kebajikan, begitu pemurah kepada hamba-hamba-Ku dan terus ke Surga, maka sesungguhnya Aku lebih pemurah dari itu.”

Maka dengan ini hamba Allah yang pemurah itu pun dinaikkan derajatnya oleh Allah swt. di Surga. Inilah kelebihan yang dikaruniakan oleh Allah swt. kepada mereka di Akhirat.

Dari uraian-uraian yang dijelaskan di atas marilah kita membuat ukuran di golongan manakah kita berada? Apakah kita berada di golongan ‘bi ghairi hisab’? ‘Ashabul yamin’? ‘Ashabus syimal’? atau ‘Ashabul A’raf’? ***

Ditulis dalam Kuliah Kesadaran | Tidak ada komentar »

Kenalkan Allah Dahulu Baru SyariatNya

Ditulis oleh majalahkawansejati di/pada Februari 24, 2008

Kita perlu mengenal Allah melalui ilmu. Marilah kita melihat sejarah bagaimana Rasulullah saw. yang berjuang selama 23 tahun, perjuangannya terbagi menjadi dua bagian yaitu:

1. Memperjuangkan Tuhan, atau memperkenalkan Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa selama 13 tahun.

2. Memperjuangkan syari’at-Nya selama 9 tahun.

Padahal Tuhan itu Esa, sedangkan syari’at Allah beribu-ribu banyaknya. Akan tetapi waktu yang digunakan untuk memperkenalkan Allah lebih lama. Sebab, apalah arti berjuang bila tidak kenal dan cinta kepada Allah, apa arti shalat bila tidak kenal dan cinta kepada Allah yang empunya syari’at? Apa arti menolong orang tua bila tidak kenal dan cinta kepada Allah? Padahal, sayang lebih besar daripada menolong. Sayang lebih besar daripada patuh.

Apa arti berdakwah jika tak dilakukan dengan penuh takut pada Allah? Sedang Nabi-nabi menyeru manusia pada Tuhan dengan penuh ketakutan kalau-kalau tidak beradab kepada Tuhan.

Oleh karena itu shalat, puasa, naik haji dan lain-lain akan ditolak kalau dikerjakan bukan atas dasar kenal, cinta dan takut kepada Allah. Apa artinya bersyari’at kalau tidak kenal Tuhan dan kalau tidak ada hubungan dengan Tuhan? Padahal syari’at adalah yang menghubungkan kita dengan Tuhan.

Di sinilah kesalahan kebanyakan umat Islam saat ini, lebih banyak menceritakan tentang halal dan haram. Masih banyak masyarakat yang tidak shalat dan tidak paham tentang Allah, tiba-tiba mereka hendak menegakkan hukum hudud. Sedangkan hudud ini dalam Islam kedudukannya di ujung. Akibatnya orang menjadi takut dengan Islam. Masyarakat masih belum suka dengan shalat, tiba-tiba dikenalkan dengan hukum potong tangan. Tentulah mereka akan takut.

Oleh karena itu, kenalkanlah Allah dahulu, baru syari’at-Nya. Kalau sudah cinta dengan Allah, jangankan shalat, nyawa pun pasti akan diberikan.

Inilah masalah umat Islam seluruh dunia. Banyak pejuang Islam di seluruh dunia, mengenalkan Islam dengan peperangan (militan). Padahal, Allah mengutus Rasulullah saw. untuk meng-Islamkan orang, bukan untuk membunuh orang. Rasulullah saw. datang dengan kasih sayang, bukan membawa kebengisan.

Oleh karena itu pendekatan terbaik bagi kita di dalam berdakwah adalah dengan memberi kepahaman tentang Tuhan. Saat ini kebanyakan pendekatan kita lebih banyak menceritakan syari’at daripada menceritakan tentang Allah, Tuhan yang mempunyai syari’at.

Akibatnya, walaupun banyak shalat, naik haji berulang kali tapi perangai tidak berubah. Mengapa shalat tidak melahirkan akhlak mulia? Mengapa berjuang tidak melahirkan akhlak mulia? Pergi umrah, naik haji, belajar, membaca Al-Quran, tidak melahirkan akhlak yang mulia? Sebab orang beribadah bukan karena mencintai Allah. Dia beribadah dan bersyari’at, tapi hatinya terputus dengan Allah. Bila hati terputus dengan Allah, dia akan melakukan ibadah secara terpaksa.

Setelah kejatuhan Imperium Islam 700 tahun yang lalu, orang hanya mengenalkan syari’at saja. Allah, tidak dikenalkan lagi. Kalaupun mengenalkan Allah, hanya sekadar mengenalkan yang asasnya saja, tidak sampai pada rasa cinta, tidak sampai pada rasa takut. Akibatnya, umat Islam tidak kenal Allah. Orang yang tidak kenal Tuhan, ketika beribadah dia akan jemu. Kalau sudah merasakan jemu, maka dia akan berpikir, untuk apa bersyari’at. Bagi dia bersyari’at dan tidak bersyari’at tidak ada bedanya.

Analoginya adalah seperti ini, kalau kita melakukan suatu pekerjaan untuk orang yang kita kasihi, kita tidak akan kenal letih, kita akan tetap merasa senang. Susah pun tidak mengapa, karena demi untuk orang yang kita cintai. Akan tetapi kalau kita bekerja untuk orang yang tidak kita kasihi, atau kita benci, aduuh… betapa tersiksanya bukan?

Misalnya kita mau melakukan pekerjaan di kantor, kita tidak suka dengan pemimpin kantor, sungguh betapa berat dan tersiksanya untuk datang ke kantor. Tapi kalau kita sayang, cinta dengan pemimpin kita di kantor, pasti kita melakukan pekerjaan tanpa kenal letih. Bahkan kita akan sanggup lembur malam demi cinta pada pemimpin kita. Kenyataan seperti itu bukan?

Begitulah juga kalau kita sudah kasih atau cinta kepada Allah, Tuhan Yang Menciptakan kita, menjalankan perintah-Nya, kita akan merasa senang, sedekah merasa senang. Melakukan puasa, shalat hati akan terasa senang. Kalau kita tidak kenal, tidak sayang, tidak cinta kepada Allah yang menciptakan kita, maka shalat seribu rakaat pun tidak akan terasa indah dan senang, sebaliknya kita akan merasa letih, jemu dan tersiksa, sebab tidak kenal dengan Allah, tidak kenal dengan Tuhan yang punya syari’at. Itulah penyakitnya.

Kita pun dapat melihat dalam satu keluarga, kalau seorang anak yang baik yang sayang dengan orang tuanya, dia tidak akan peduli apakah orang tuanya mau memberi makan atau tidak, apakah mereka akan memberi pakaian atau tidak, dia akan tetap merasa senang. Seorang anak yang baik dia tidak akan marah bila apa yang dipintanya kepada orang tuanya tidak dikabulkannya. Sebaliknya bagi anak yang jahat, jika orang tuanya tidak memberi apa yang dipintanya, dia akan berani marah dengan orang tuanya.

Begitu juga halnya dengan seorang hamba yang baik, bila Allah tidak memberi, baginya tidak apa-apa. Bagi dia, itu bukan satu masalah. Dia akan berkata, ‘Aku ingin berkhidmat kepada Allah’. Akan tetapi bagi hamba yang jahat, hamba yang tidak sayang dengan Allah, bila doanya tidak dikabulkan dia akan marah dan protes dengan Allah.

Sebenarnya, kalau seseorang itu kenal dan paham tentang Allah, suatu hal yang lezat itu dirasakan bukan ketika Dia memberi sesuatu padanya, tapi ketika seseorang itu dapat berkhidmat kepada Allah, itulah yang lezat. Mendapat kelezatan berkhidmat itu adalah suatu nikmat yang besar.

Tapi untuk merasakan hal itu tidak mudah. Perlu betul-betul kenal dengan Allah. Kalau sekedar beriman saja, sekedar iman yang sah saja, tidak akan mencapai taraf itu. Walaupun shalatnya banyak, wiridnya banyak, tapi iman tidak berkembang atau bertambah. Sehingga akhirnya jemu dengan ibadah. Lebih-lebih kalau terkena ujian, hati kecil pun berkata, “Aku sudah shalat, sudah puasa, sudah wirid banyak, tapi Allah masih mengujiku juga?”.

Oleh karena itulah para malaikat, walaupun ibadahnya tidak banyak, hanya satu jenis saja tapi ibadahnya terasa lezat, ‘mabuk’ cinta dengan Allah, sebab dia kenal Allah. Walaupun ibadahnya hanya tasbih saja, tahmid saja, tapi terasa begitu lezat. Malaikat itu hanya satu saja ibadahnya tapi tidak pernah jemu melakukannya dari semenjak diciptakan sampai dimatikan Allah. Misalnya ada malaikat yang ditugaskan sujud saja semenjak diciptakan, dia sudah terasa lezat dengan ibadahnya itu dan tidak akan pernah merasa jemu.

Begitu juga dengan Nabi Adam, ketika dia berbuat kesalahan, dia merasa menyesal dan sujud selama 40 tahun, dia tidak sadar sebab dia merasakan kelezatan dengan sujudnya itu.

Oleh karena itulah kalau kita dapat merasakan sebagaimana yang Allah firmankan dalam Al-Qur’an,

“Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) dan amat mengabulkan (doa hamba-Nya).” (QS. Hud: 61).

“..Sesungguhnya Aku beserta kamu…”(QS. Thaha: 46).

“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang beriman” (QS. Al-Anfal: 19).

“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS. An-Nahl: 128).

Maka di mana saja kita berada kita akan merasakan Allah itu Melihat dan Mendengar. Tentu kita tidak akan terganggu dengan hal-hal lain.

Analoginya, kita ibaratkan sedang berada di suatu hutan, tiba-tiba ada harimau di depan kita. Kita sadar di depan kita itu benar-benar harimau, bukan kucing atau anjing. Dapatkah saat itu kita teringat makan, teringat istri, teringat ingin ke pasar dan lain-lain? Tentu tidak bukan? Yang kita pikirkan saat itu adalah harimau yang siap menerkam kita. Selapar apapun kita akan lupa ketika berhadapan langsung dengan harimau yang ganas (tentunya bukan yang di kebun binatang-red). Padahal, ia hanya makhluk Allah. Ia baru ciptaan Allah, sudah begitu menakutkan kita.

Maka seharusnya lebih dari itulah bila kita berhadapan dengan Allah yang menciptakan harimau. Harimau itu tidak akan berbuat apa-apa tanpa izin dari Allah yang menggerakkan. Itupun sudah cukup membuat kita takut dan bimbang tidak karuan. Harimau saja sudah cukup kita lupa selainnya.

Begitulah gambarannya. Kalau kita merasakan bahwa Allah itu ada, Allah itu Mendengar, Melihat, Menjaga hamba-hamba-Nya, maka apa saja tidak akan mengganggu kita, seperti uang, pangkat, kekayaan, dan lain-lain yang ada di tangan, semuanya tidak akan mengusik hubungan hati kita dengan Allah. Apa yang kita pikirkan adalah Allah. Fisik kita memang berhubungan dengan manusia dan benda, tapi hati dan pikiran kita senantiasa tidak terputus dengan Allah.

Inilah pentingnya hati atau ruh kita senantiasa dihidupkan dengan Allah. Inilah rasa bertuhan namanya. Rasa kerdil, hina di hadapan Allah, rasa kehebatan dan kekuasaan Allah, rasa senantiasa dilihat dan didengar Allah, rasa bahwa Allah adalah segala-galanya buat kita, dan lain-lain.

Bila rasa bertuhan itu subur, maka otomatis rasa kehambaan pun tumbuh subur dalam jiwa seperti, rasa syukur dan malu dengan nikmat-Nya, rasa berdosa setiap waktu, rasa sedih dengan dosa, rasa kurang beramal, terasa diawasi oleh Allah, dan lain-lain.

Rasa bertuhan dan rasa kehambaan itu sangat penting. Bukan hanya sekedar percaya saja dengan Allah. ***

Ditulis dalam Mengenal Allah | Tidak ada komentar »

Pemimpin Yang Dijanjikan

Ditulis oleh majalahkawansejati di/pada Februari 24, 2008

Perjuangan kebenaran yang dijanjikan niscaya memiliki pemimpin yang dijanjikan. Bahkan sebenarnya inti dari kebenaran yang dijanjikan itu adalah pada pemimpinnya. Pemimpin yang dijanjikan adalah orang yang memimpin suatu jamaah yang memperjuangkan kebenaran yang kedatangannya telah disebutkan sebelumnya, baik oleh seorang rasul atau seorang nabi melalui wahyu yang diterimanya, maupun oleh seorang wali Allah melalui ilham atau firasat yang diterimanya.

Marilah kita lihat dalam Al Quran surah Al Baqarah. Di sana Allah berfirman tentang seorang pemimpin kebenaran yang dijanjikan untuk Bani Israil. Namanya Thalut. Kehadirannya telah disebutkan oleh Nabi Allah Samuel as. Kepada para pemuka Bani Israil yang datang minta beliau berdoa pada Tuhan agar didatangkan seorang pemimpin untuk Bani Israil. Saat itu Bani Israil dalam ancaman pembinasaan oleh bangsa Romawi yang dipimpin rajanya, Jalut. Seorang yang bertubuh raksasa. Bani Israil hampir putus asa hingga mereka datang pada nabi mereka.

Nabi Samuel memperingatkan para pemuka itu bahwa jika nanti Allah datangkan pemimpin, maka mereka akan menolak pemimpin tersebut. Bani Israil tetap memaksa hingga Nabi Samuel as. Berdoa. Tuhan menjawabnya dengan mengangkat Thalut. Ternyata apa yang telah diperingatkan Nabi Samuel menjadi kenyataan. Para pemuka itu menolak Thalut karena dia hanya seorang petani biasa. Begitulah biasanya yang dialami pemimpin kebenaran.

Dalam Al Quran juga terdapat nama Zukarnain sebagai pemimpin yang dijanjikan. Pada kitab-kitab para rasul terdahulu seperti Taurat, Zabur, dan Injil jelas terdapat keterangan tentang nabi akhir zaman yang bernama Ahmad atau Muhammad. Di sana disebut cirri-cirinya, tempat lahirnya dan tempatnya berhijrah. Sangat jelas hingga Bani Israil mengenalnya lebih dari mengenal anak mereka sendiri. Tapi kenyataannya setelah Rasulullah saw. diutus, Bani Israil-lah yang paling keras permusuhannya pada rasul akhir zaman.

Pemimpin kebenaran yang telah disebutkan oleh Rasulullah saw. adalah Khulafa ar Rasyidin, Sultan Muhammad Al Fateh (Rasul saw. menyebut ciri-cirinya saja), Imam Mahdi Muhammad bin Abdullah (Rasul saw. menyebut segala ciri-cirinya dan kisahnya dengan lengkap) dan Putra Bani Tamim atau Al Fata At Tamimi (Rasul saw menyebut ciri-ciri dan kisahnya, tapi tidak menyebut nama, hanya gelar saja). Dua yang terakhir inilah yang saat ini sedang ditunggu-tunggu orang sedunia, baik muslim maupun non-muslim karena kemenangannya telah dijanjikan bertaraf dunia. Di tangan mereka agama Islam akan dipeluk manusia sedunia dan mereka akan memenuhi dunia dengan keadilan dan kasih sayang.

Pemimpin kebenaran yang ditunjuk melalui ilham adalah Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang berita tentangnya telah diterima oleh kakek buyutnya, Sayidina Umar bin Khattab ra. jauh sebelum Umar bin Abdul Aziz lahir. Begitu juga Imam Syafi’i rh. Gurunya, Imam Malik rh. telah mendapat firasat tentang beliau.

Para pemimpin yang dijanjikan ini tidak ada satu pun yang naik memimpin manusia dengan kaedah pemilihan umum beramai-ramai. Mereka naik memimpin manusia karena kepemimpinannya diterima oleh hati-hati manusia yang menyetujuinya. Naiknya tanpa kampanye menunjuk-nunjuk kehebatan dan kelebihan diri, padahal ilmu, akhlak dan sifat-sifat mereka jauh melebihi masyarakat pada zaman mereka. Perjuangan mereka dibantu Tuhan, karena itulah mereka tidak dapat dikalahkan oleh musuh-musuhnya. Kesabaran mereka—seperti kesabaran Rasulullah saw.—sangat luar biasa. Mereka mampu bersikap lemah lembut terhadap umat mereka yang degil, bahkan terhadap musuh mereka. Sangat sabar dalam menghadapi ujian-ujian dari Allah Ta’ala. Ilmu mereka luar biasa, tidak dapat dikalahkan oleh orang-orang berilmu pada zaman mereka.

Mereka juga mempunyai pengikut yang sangat mencintai mereka sehingga oleh orang yang iri mereka biasa disebut fanatik buta. Mereka tidak belajar dari ulama-ulama sezaman mereka karena ilmu mereka langsung dari Allah baik melalui wahyu (untuk rasul dan nabi) ataupun ilham (untuk para wali). Ilmu mereka hebat dan nampak asing bagi ulama-ulama sezaman, karena itulah biasanya mereka dianggap sesat oleh ulama-ulama sezamannya. Banyak contoh untuk ini. Rasulullah saw. sendiri dituduh sesat, gila, pemecah belah, dan penyihir. Thalut diragukan oleh Bani Israil bahkan dikhianati. Begitu juga mujaddid-mujaddid penerus Rasul saw. Imam Syafi’i, Imam Abu Hasan Al Asy’ari, Imam Ghazali, Imam Sayuti, banyak ulama sezaman mereka menuduh mereka sesat dan memusuhi mereka.

Ditulis dalam Fokus | Tidak ada komentar »

Perjuangan Kebenaran Yang Dijanjikan

Ditulis oleh majalahkawansejati di/pada Februari 24, 2008

Benarkah Rasulullah saw. dapat “melihat” masa depan?

Di kalangan umat Islam masa kini ada yang menyangkal bahwa Rasulullah saw. telah mengatakan sesuatu kejadian sebelum hal tersebut terjadi. Mereka katakan, “Rasulullah bukan peramal!” Perkataan mereka tersebut benar, tapi kurang tepat. Memang Rasulullah saw. bukan peramal. Ketika Rasulullah mengatakan sesuatu tentang masa depan baginda bukan meramal, melainkan menceritakan berita dari Allah Ta’ala yang sampai padanya. Jadi apa yang disampaikan Rasulullah bukan menebak, melainkan menceritakan sesuatu yang pasti terjadi. Karena itulah baginda disebut “shadiqul masduq”, perkataannya benar dan dibenarkan oleh Allah Ta’ala. Rasul-rasul yang terpilih memang diberi pengatahuan ghaib termasuk tentang peristiwa yang belum terjadi sesuai Firman Allah dalam Al Quran, terjemahnya:

“Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya.” (QS. Ali Imran: 179)

Rasulullah sendiri telah menceritakan perkara-perkara masa depan hingga kiamat seperti diberitakan oleh hadis berikut ini:

“Amr bin Akhtab Al-Anshari ra. berkata: Rasulullah saw. mengerjakan shalat subuh bersama kami. Beliau naik ke atas mimbar dan menyampaikan khutbah sampai tiba waktu zhuhur. Kemudian beliau turun untuk mengerjakan shalat. Beliau naik lagi ke atas mimbar, sampai waktu shalat ashar. Lalu turun mengerjakan shalat ashar. Rasulullah saw. naik lagi ke mimbar sampai matahari terbenam. Beliau menceritakan keadaan hingga hari kiamat, sehingga kami mengetahuinya dan hafal.” (HR. Muslim)

Janji Rasulullah saw. yang telah terjadi

Di antara berita masa depannya tersebut, Rasulullah menceritakan tentang perjuangan umatnya di masa depan dan memastikan kemenangan mereka. Berkata Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda:

“Kerajaan Persia akan hancur, dan takkan ada lagi Raja Persia setelahnya. Kekaisaran Romawi juga akan hancur, dan tak ada lagi Kaisar Romawi setelahnya. Kalian akan membagi harta simpanan mereka di jalan Allah. Karena itu, perang adalah tipu daya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ada beberapa hadis lain lagi yang menceritakan bahwa Islam akan mengalahkan Romawi dan Persia. Kita tahu dari sejarah, setelah wafatnya Rasulullah tentara Islam di bawah Panglima Sayidina Khalid bin Walid ra. memberikan pukulan akhir pada pasukan Romawi di Syam dan dengan itu takluklah seluruh jajahan Romawi di Syam yang saat ini meliputi Syria, Jordan, Palestina dan Libanon.

Di masa pemerintahan Khalifah Umar ra. pasukan Islam di bawah Panglima Sayidina Sa’ad bin Abi Waqqash menaklukkan Persia. Saat itu bangsa Persia sebagian besar adalah penganut agama Majusi, penyembah api. Mereka beribadah di kuil-kuil api abadi mereka. Semasa lahir Rasulullah, api abadi mereka yang terbesar yang telah menyala ribuan tahun tiba-tiba padam.

Bermula dari penaklukan Iraq, pasukan Islam terus menaklukkan ibu kota Persia, Madain hanya dalam tempo 2 tahun. Sayidina Sa’ad ra. dengan pasukannya menaklukkan pasukan Persia yang sangat terlatih di bawah panglimanya Rustum yang sangat berpengalaman. Mereka merebut Qadisiyah dalam sebuah pertempuran yang sangat bersejarah karena untuk pertama kalinya pasukan Islam menghadapi tentara bergajah. Tapi karena bantuan Allah, pasukan Persia dapat dikalahkan. Dalam pertempuran ini pasukan Islam berjumlah sekitar 20.000 orang melawan lebih 200.000 prajurit Persia. Dalam pasukan Islam itu terdapat lebih 400 Sahabat Rasulullah dan di antaranya ada 99 orang Ahli Badar (peserta perang Badar).

Setelah merebut Babylon dan Madain, Istana Kisra Persia diduduki dan pasukan Islam mendapat ghanimah (rampasan perang) yang sangat besar. Mungkin yang terbesar dalam sejarah. Orang-orang Persia pun secara berangsur-angsur selama 200 tahun menukar agamanya menjadi agama Islam karena takjub dengan akhlak umat Islam. Maka tunailah apa yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya saw.

Dalam hadis lain Rasulullah saw. ada menyebut:

”Konstantinopel akan jatuh di tangan seorang pemimpin yang sebaik-baik pemimpin, tentaranya sebaik-baik tentara, dan rakyatnya sebaik-baik rakyat.” (Al Hadis)

Para Sahabat Rasulullah saw., tabi’in dan tabi’ut tabi’in terus berusaha membuktikan sabda Rasulullah ini. Mereka berulang kali mengadakan ekspedisi untuk menaklukkan Konstantinopel. Tercatat dari kalangan Sahabat ra. Sayidina Abu Ayyub Al-Anshari ra. yang ketika itu telah berusia lebih 80 tahun ikut berusaha menagih janji Rasul tersebut. Beliau syahid di medan perang dan dimakamkan di dekat tembok benteng Konstantinopel. Dari kalangan tabi’in ada Ibrahim bin Ad-ham rh. yang datang ke sana untuk membuktikan janji Rasulullah dan beliau pun syahid.

Ternyata janji Rasulullah itu baru terbukti lebih 800 tahun kemudian di tangan Sultan Muhammad Al-Fateh dari Dinasti Usmaniyah. Dengan jatuhnya Konstantinopel, jatuhlah seluruh wilayah Kekaisaran Romawi Timur ke tangan Islam.

Ayah Muhammad Al-Fateh, Sultan Murad telah mendapat kabar dari Syeikh Syamsuddin Al-Wali bahwa anaknya yang baru lahir itu yang akan menepati janji Rasulullah (lihat Kisah Teladan - red). Karena itu beliau telah mempersiapkan Muhammad Al-Fateh sejak kecil dengan diserahkan didikan agamanya pada Syeikh Syamsuddin dan didikan militernya pada panglima-panglima Turki yang paling berpengalaman hingga pada usia 19 tahun beliau telah siap menggantikan ayahnya menjadi sultan. Pada usia 21 tahun beliau memimpin pasukannya untuk menaklukkan Konstantinopel dan terbuktilah hadis di atas: Konstantinopel takluk!

Perjuangan kebenaran yang tak dijanjikan

Perjuangan kebenaran yang tak dijanjikan (tak disebut dalam Quran, hadis maupun firasat wali Allah) biasanya tak mencapai kejayaan di dunia. Misalnya untuk diambil contoh, perjuangan Pangeran Diponegoro. Meskipun dibantu orang-orang shaleh (sebagian bertaraf wali) dan memperoleh kemenangan besar dalam pertempuran, tapi tetap saja beliau kalah meskipun dengan kecurangan musuh. Perjuangan Hasan Al Banna pun tak mencapai kejayaan dunia. Tetapi berkat keikhlasan beliau dalam berjuang, Tuhan menganugerahkan kejayaan di Akhirat pada beliau: mati syahid.

Janji Rasulullah saw. untuk akhir zaman

Untuk umat Rasulullah di akhir zaman, sangat banyak janji Rasulullah yang dapat dibaca dalam hadis-hadis. Beliau telah berkata bahwa Islam akan bangkit untuk kedua kalinya (yang pertama di zaman baginda) di akhir zaman dan kebangkitan itu akan dimulai dari sebelah timur.

Rasulullah saw. bersabda:

“Kalaulah tiada lagi sisa umur dunia ini kecuali satu hari saja niscaya Allah akan memanjangkan hari itu hingga diutus ke dunia ini seorang lelaki dari keturunanku atau keluargaku, namanya menyerupai namaku dan nama bapaknya menyerupai nama bapakku. Dia akan memenuhi bumi ini dengan keadilan dan seksama sebagaimana sebelumnya dipenuhi oleh kezaliman dan kejahatan.” (HR. Abu Daud dan At Tirmizi)

Juga sabda beliau:

“Akan keluar dari sulbi ini (Sayidina Ali) seorang pemuda yang akan memenuhi bumi ini dengan keadilan dan seksama. Maka apabila kamu ingin melihatnya, maka wajiblah kamu bersama dengan Putera Bani Tamim, sesungguhnya dia datang dari sebelah timur dan dialah pemegang panji-panji Al Mahdi.” (HR. At Thabrani)

Dari Tsauban ra. katanya Rasulullah saw. bersabda,

“Panji-panji Hitam akan datang dari arah timur, hati mereka bagaikan kepingan-kepingan besi. Siapa yang mendengar mengenai mereka, datangilah mereka walaupun terpaksa merangkak di atas salju.” (HR. Ibnu Majah, Al Hakim, Ahmad, Al Hafiz Abu Nuaim)

Jelas dalam hadis-hadis ini Rasulullah menjanjikan bahwa di akhir zaman Islam akan bangkit kembali dari arah timur dengan dipimpin oleh seorang keturunan Baginda saw. yang bergelar Imam Mahdi. Nama aslinya adalah Muhammad bin Abdullah, persis seperti nama Baginda saw. Dan jika kita ingin menyertainya, kita harus bersama dengan seorang yang bergelar Putra Bani Tamim yang datang dari timur meskipun terpaksa menempuh kesukaran (“merangkak di atas salju”). Putera Bani Tamim ini membawa panji-panji hitam (bendera pasukan Islam di masa Rasulullah saw.), yaitu sebuah perlambang bahwa dia akan membawa sebuah sistem hidup yang mencontoh sistem hidup Rasulullah saw. dalam segala aspek.

Rasulullah saw. dalam hadis-hadis lain juga menceritakan bahwa Imam Mahdi adalah seorang yang bertaraf khalifah. Kemunculan beliau akan terjadi setelah orang-orang dari timur (Putra Bani Tamim dan para pengikutnya) mempersiapkan tapak pemerintahannya.

Hadis-hadis tentang Imam Mahdi dan Putera Bani Tamim ini banyak dan lebih kurang 20 di antaranya berderajat shahih sehingga mencapai taraf mutawatir maknawi. Tentunya ini menjadi berita gembira bagi kita bahwa agama ini akan mencapai kejayaan untuk kedua kalinya dengan pemimpin dan para pejuang yang telah dijanjikan oleh Rasulullah saw.***

Ditulis dalam Fokus | Tidak ada komentar »

Perjuangan Kebenaran

Ditulis oleh majalahkawansejati di/pada Februari 24, 2008

Hari ini di dunia, kita berhadapan dengan bermacam-macam bentuk perjuangan manusia. Baik atas nama agama, bangsa, ekonomi, harga diri, maupun yang lainnya. Masing-masing tentunya mengaku bahwa apa yang mereka perjuangkan itulah kebenaran. Sebenarnya kebenaran hakiki hanya satu adanya.

Sebagai orang beriman, tentu kita yakin bahwa kebenaran itu hanya satu yaitu dari Allah semata. Seperti yang difirmankan-Nya dalam Quran yang terjemahnya:

“Yang benar itu datang dari Tuhanmu. Janganlah kamu menjadi golongan yang ragu-ragu.” (QS. Ali Imran: 60)

Selain dari Allah itu bukan kebenaran, karena sebagai Sang Pencipta tentulah Allah lebih tahu, bahkan Maha Mengetahui mana yang benar mana yang salah. Untuk membedakan benar salah manusia memerlukan petunjuk dari Allah, yaitu wahyu yang disampaikan kepada nabi dan rasul-Nya.

Akal saja tidak cukup untuk membedakan mana kebenaran mana kebatilan karena akal manusia lemah. Akal bukan Tuhan. Contoh sederhananya, kita lihat kembali negeri Yunani kuno yang memiliki banyak ahli pikir (filosof). Masing-masing filosof memiliki pemikiran sendiri. Yang satu berbeda dari yang lain. Ada filosof berpendapat bahwa makhluk hidup berasal dari lumpur sedang filosof yang lain berpendapat bahwa makhluk hidup berasal dari udara. Seribu filosof memiliki seribu pendapat yang berbeda. Bahkan antara guru dan murid pun berbeda. Contohnya adalah Socrates dengan muridnya Plato dan Plato dengan muridnya Aristoteles.

Sebaliknya, dari 124.000 nabi yang diutus Allah semuanya mengeluarkan peringatan yang seragam tentang adanya Allah yang Maha Esa, tentang hari kiamat, tentang hidup setelah mati dan tentang surga dan neraka. Mereka pun memiliki akhlak yang seragam. Akhlak mereka begitu mulianya hingga kawan maupun lawan semua mengakui. Inilah satu bukti sederhana bahwa kebenaran hanya satu dan berasal dari sumber yang satu, yaitu Allah Yang Maha Tinggi.

Sudah menjadi ketentuan Allah bahwa kebenaran itu harus diperjuangkan ke tengah manusia. Sejarah nabi dan rasul menjadi buktinya. Semua nabi, terutamanya yang berpangkat rasul mesti memperjuangkan kebenaran tersebut. Menyampaikannya ke tengah-tengah kaumnya, berdakwah, memberi contoh teladan dengan kasih sayang dan kesabaran luar biasa. Mereka rela bertahun-tahun menderita, ditimpa bermacam-macam kesusahan demi supaya umatnya mencapai kebahagiaan dunia dan Akhirat. Mereka rela dituduh sesat, gila, difitnah, disakiti fisiknya (bahkan sebagian terkorban nyawa) demi keselamatan umatnya.

Inilah perjuangan kebenaran yang sejati. Perjuangan yang selamat dan menyelamatkan. Perjuangan dengan kesabaran dan kasih sayang.

Apakah ciri-ciri perjuangan kebenaran?

Perjuangan kebenaran itu tentu mempunyai ciri-ciri tersendiri. Jika kita lihat kembali sejarah para nabi dan rasul, kita tentu akan menyadari bahwa kebenaran itu teramat sangat jarang. Ia indah tapi jarang. Di dalamnya ada kasih sayang, keadilan, keselarasan dan jaminan keselamatan. Sangat indah. Tentunya barang yang indah dan jarang akan bernilai amat mahal. Manakah lebih mahal sebutir intan dibanding sekarung batu? Karena itulah para Sahabat Rasulullah saw. berani mengorbankan nyawanya demi agar tetap berada dalam jamaah Rasulullah.

Selain jarang, kebenaran itu biasanya diperjuangkan oleh golongan yang sedikit. Bermula dari satu pemimpin yang mengajak pengikutnya satu persatu dan mendidik mereka dalam jangka waktu yang lama. Pemimpin ini—karena ini perjuangan Tuhan—tentulah dia seorang bertaqwa (rasul atau wali ALLAH) atau setidaknya orang shaleh. Sekali lagi kita tengok sejarah. Pasukan Thalut yang berjumlah 313 orang melawan raksasa Jalut (Goliath) dengan 200.000 orang tentaranya. Pasukan Rasulullah dalam perang Badar yang berjumlah 313 orang melawan 1.000 orang kafir Quraisy. Begitu juga pengikut Nabi Nuh as., pengikut Nabi Ibrahim as., dan Nabi Musa as. (jika dibandingkan dengan pasukan Fir’aun).

Kemudian, ciri lain dapat kita ketahui dari Hadis Rasulullah saw. yang terjemahnya:

“Akan senantiasa ada satu thoifah di kalangan umatku yang menzahirkan (mewujudkan) kebenaran, mereka tidak dapat dihancurkan oleh musuh-musuhnya, hingga datang ketentuan Allah (kejayaan).” (HR. Muslim)

Di sini kembali kita mendapat ilmu bahwa ciri perjuangan kebenaran adalah mewujudkan kebenaran itu sendiri. Bukan sekadar memperkatakannya. Seluas apa kebenaran itu, seluas itu pulalah para pejuang kebenaran berjuang mewujudkannya. Kebenaran dari Tuhan mencakup seluruh segi kehidupan manusia. Maka ciri perjuangan kebenaran yang sejati adalah mewujudkan ayat-ayat Tuhan dalam tiap sisi kehidupannya. Mereka mewujudkan masyarakat yang berkasih sayang, pendidikan, ekonomi, pengurusan masyarakat, kebudayaan dan hiburan, rumah tangga, sistem pengobatan, pertanian, peternakan, dan lain sebagainya. Banyak yang sudah membangun ekonomi. Tapi betulkah ekonomi tersebut adalah sistem ekonomi yang diperintahkan Tuhan? Betulkah ia bebas dari riba dan pemanfaatan manusia dengan semena-mena? Banyak pula yang membangun pendidikan. Tapi benarkah pendidikan itu sudah seperti cara Rasulullah saw. mendidik? Tentu ini memerlukan kajian yang lebih mendalam, tetapi perlu, agar kita dapat membedakan mana sistem Tuhan mana yang bukan.

Satu lagi cirinya dari hadis di atas ialah, tiap kebenaran niscaya mempunyai musuh. Itulah sunnatullahnya. Bahkan, perjuangan apapun yang tak memiliki musuh pasti ia bukan perjuangan kebenaran. Kebenaran itu yang cinta sangat mencintainya, sebaliknya yang benci juga sangat membencinya sampai berusaha menghalang dengan segala cara. Khusus untuk perjuangan kebenaran yang dijanjikan, Rasulullah saw. menjamin bahwa perjuangan itu takkan dapat dihancurkan oleh musuh-musuhnya. Kita dapat melihatnya dalam sejarah para rasul. Nabi Ibrahim as. yang tak terbakar meskipun sudah 40 hari dibakar dalam api, Nabi Yusuf as. yang tak cedera meskipun sudah dilempar ke dalam sumur, dan Nabi Musa as. tak cedera sedikit pun meski dihanyutkan di sungai ketika bayi. Rasulullah saw. dan para Sahabat ra. bukannya habis setelah disiksa oleh orang kafir Mekkah sebaliknya malah bertambah kuat dan dikemudian hari menaklukkan Mekkah dengan damai.

Ciri lain lagi adalah perjuangan kebenaran selalu dibantu langsung oleh Allah Ta’ala. Bantuan itu dapat berupa mukjizat (untuk nabi dan rasul) dan karamah (untuk para wali). Tentu kita semua dapat membaca dalam Quran dan Hadis bahwa Nabi Ibrahim as. tidak terbakar oleh api, Nabi Musa as. dapat membelah Laut Merah dengan tongkatnya dan Nabi Nuh as. dengan doanya mendatangkan air bah yang sanggup menenggelamkan gunung. Rasulullah saw. sendiri macam-macam mukjizatnya. Yang terbesar adalah Al Quran yang mengandung bermacam-macam ilmu, baik dunia maupun Akhirat. Baginda juga dapat membelah bulan dan melakukan perjalanan yang sangat jauh (Isra’ Mi’raj) dalam waktu yang sangat singkat. Yang bukan nabi atau rasul, yaitu para wali Allah mendapat karamah; misalnya Asif Barkhiya, menteri Nabi Sulaiman yang memindahkan singgasana Ratu Balqis dari Yaman ke Yerusalem dalam sekejap mata dan para pemuda Ashabul Kahfi yang tidur dalam gua selama 309 tahun tanpa makan dan minum tapi tetap hidup dan segar bugar (keduanya dapat dibaca dalam Quran Surah Al-Kahfi).

Kemudian, kita dapati pula bahwa perjuangan kebenaran senantiasa dibantu berita-berita ghaib dari Allah. Sekadar contoh, Rasulullah saw. mengetahui dengan jelas rencana Umair bin Wahab (semasa masih kafir) untuk membunuh baginda, padahal Umair bin Wahab merencanakan hal tersebut di tengah padang pasir sunyi. Imam Hambali lebih dahulu diberi tahu Rasulullah melalui mimpi sebelum beliau mengalami cobaan berat, bertahun-tahun disiksa oleh golongan mu’tazilah. Sultan Muhammad Al-Fateh telah diberi tahu sebelumnya tentang hari dan jam kemenangannya dalam menaklukkan Konstantinopel melalui berita ghaib yang diterima Mursyidnya, Syeikh Syamsuddin Al-Wali.***

Ditulis dalam Fokus | Tidak ada komentar »

Masa Beredar Detik Demi Detik

Ditulis oleh majalahkawansejati di/pada Februari 22, 2008

MASA beredar detik demi detik, tidak pernah berhenti. Satu detik yang ditinggalkan berarti satu detik umur kita hilang. Satu detik berlalu bermakna satu detik juga bertambah dekat kita dengan kematian. Mati adalah perpindahan kita dari alam dunia ke Alam Barzakh. Di sana Allah akan lanjutkan hidup kita. Kehidupan di sana adalah balasan pada cara hidup di dunia. Misalnya yang kita pilih di dunia adalah kehidupan beriman dan beramal baik, maka di Alam Barzakh kita akan menerima ganjaran kebaikannya. Sebaliknya kalau di dunia kita kufur dan beramal jahat, maka di Alam Barzakh Allah akan membalas kita dengan balasan yang setimpal. Kita akan kekal seperti itu, hingga tiba Hari Kiamat, di mana Allah akan sempurnakan pembalasan kepada hamba-hamba-Nya.

Firman Allah SWT yang terjemahannya: “Kalau matahari digulung. Dan apabila bintang-berguguran. Dan apabila gunung-gunung dihancurkan. Dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan. Dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan. Dan apabila lautan dijadikan meluap. Dan apabila roh-roh dipertemukan dengan tubuh. Dan apabila bayi-bayi wanita yang dikubur hidup-hidup ditanya, tentang dosa apakah dia dibunuh. Dan apabila catatan amal manusia dibuka. Dan apabila langit dilenyapkan. Dan apabila Neraka Jahim dinyalakan. Dan Syurga didekatkan. Maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan. (QS At Takwir: 1-14)

Di Hari Kiamat akan bangkitlah manusia dari Alam Barzakh dalam bentuk sebagaimana yang diwarisi sewaktu hidup di dunia. Orang yang beriman adalah golongan yang berhasil. Allah memberitahu kabar gembira itu dengan firman-Nya yang artinya:

“(Pada Hari Kiamat) banyak muka pada hari itu berseri-seri. Merasa senang karena usahanya. Dalam Syurga yang tinggi. Tidak kamu dengar di dalamnya perkataan yang tidak berguna. Di dalamnya ada mata air yang mengalir. Di daIamnya ada tahta-tahta yang ditinggikan. Dan gelas-gelas yang diletakkan. Dan bantal-bantal sandaran yang tersusun. Dan permadani-permadani yang terhampar.” (QS Al Ghaasiyah: 8-16).

Sebaliknya orang-orang yang ingkar dan durhaka kepada Allah, adalah golongan yang gagal dan menderita. Firman Allah yang artinya:

“Banyak muka pada hari itu tunduk terhina. Bekerja keras lagi kesusahan. Memasuki api yang sangat panas. Diberi minum (air) dari sumber yang sangat panas. Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri. Yang tidak menggemukkan dan tidak menghilangkan lapar.”(Al Ghaasiyah: 2-7).

Di Hari Kiamat manusia hanya dikelaskan dalam dua kelas, iman atau kafir. Tidak ada kelas ketiga. Siapa yang dapat masuk ke kelas iman, berbahagialah dia dalam Syurga selamanya. Siapa yang terpaksa masuk kelas kafir, menderitalah dia dalam Neraka selamanya. Siapa dari kita yang mau dan sanggup menerima penderitaan? Diuji dengan sedikit kesusahan di dunia pun kita sudah berkeluh-kesah dan tidak sabar, apalagi kalau selamanya dibenamkan di dalam api, dengan segala penyiksaan dan penghinaan yang dahsyat. Sesungguhnya tidak akan ada siapa pun yang mau.

Kalau begitu kita tidak memiliki pilihan lain selain beriman. Dalam peluang hidup yang masih ada, kita masih berpeluang untuk memilih. Maka pilihlah jalan hidup beriman. Jalan yang telah dilalui oleh nabi dan rasul. Jalan yang telah ditunjukkan oleh Al Quran dan Sunnah. Jalan yang lurus, yang kita mohon setiap kali mendirikan shalat:

“Tunjukilah kami (ya Allah) jalan lurus. Jalan mereka yang Engkau beri nikmat. Bukan jalan mereka yang Engkau murkai. Tidak juga jalan mereka yang sesat.”

Jalan itu adalah kehidupan yang diasaskan atas rasa cinta pada Tuhan, rindu Syurga dan takut Neraka di Akhirat. Dengan tiga bentuk perasaan itu, mereka senantiasa berperang dengan hawa nafsu dan syaitan. Mereka senantiasa melebihkan kepentingan Akhirat dari kepentingan dunia mereka. Sifat-sifat mereka Allah cantumkan dalam Al Quran dengan firman-Nya yang artinya:

“Adapun orang yang takut pada kebesaran Tuhannya, dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya Syurgalah tempat tinggalnya.” (QS An Naazi’at: 40-41)

Tidak pernah berniat untuk durhaka kepada Allah sebaliknya mereka senantiasa merancang dan bersedia untuk berbakti pada Allah.

Sudah menjadi Sunnatullah bahwa jalan-Nya itu adalah susah dan payah. Menempuhnya berarti menyusahkan diri dengan segala pengorbanan yang besar. Bagaimanapun itu adalah jalan yang paling mulia. Jalan itulah yang telah ditempuh oleh para anbia dan mursalin, orang-orang muqarrobin dan orang-orang solehin. Mereka itu semuanya telah berhasil sampai ke ujung dan sekarang sedang menghadapi nikmatnya. Kita yang masih tinggal, jalanilah terus. Usah ragu dan bimbang. Kepayahan yang sedang kita tanggung sebenarnya adalah harga kebahagiaan yang akan kita terima nanti. Insya Allah.

Semoga Allah membimbing kita dengan taufik dan hidayah-Nya, agar kita tetap di atas jalan-Nya. Semoga umur yang masih diizinkan ada pada kita, dapat kita pergunakan sepenuhnya untuk berbakti kepada-Nya. Amin. Amin. Amin ya Rabbal ‘Alamin.

Ditulis dalam Jendela Hati | Tidak ada komentar »

Memo Untuk Suamiku Yang Ingin Bermadu

Ditulis oleh majalahkawansejati di/pada Februari 22, 2008

Assalaamu ‘alaikum wr wb.

Wahai suamiku, belahan jiwaku! Ketahuilah bagaimana susahnya engkau membendung keinginanmu untuk menikah lagi, begitulah susahnya istrimu untuk membujuk nafsu agar setuju engkau menambah istri. Kalau engkau juga kelihatan tidak sabar, tidak aneh kalau istrimu lebih tidak sabar darimu.

Ada istri banyak tidak salah, bahkan di akhir zaman ini kalau engkau hanya mempunyai istri satu, itu artinya engkau kurang bertanggung jawab, sebab engkau tidak membela nasib wanita akhir zaman yang jumlahnya lebih banyak daripada laki-laki. Membiarkan mereka menjadi perawan tua adalah satu kekejaman, yang bakal menimbulkan berbagai penyakit dalam masyarakat. Dengarlah jeritan qalbu mereka yang sakit akibat terlanjur umur. Hanya mereka malu untuk mengungkapkan keinginan mereka itu untuk didengar oleh semua manusia. Maka menikahi mereka itu satu tindakan yang wajar. Mempunyai dua, tiga, atau empat istri bukanlah satu kesalahan. Bukannya engkau mendzalimi istrimu. Engkau harus pahamkan istrimu tentang ini. Tapi sebelum itu engkau harus berjanji dengan dirimu bahwa engkau akan bersikap seadil-adilnya terhadap mereka. Jika tidak, nerakalah akibatnya.

Katakanlah engkau mempunyai tiga istri. Tentunya mereka berbeda satu sama lain. Maka perasaanmu terhadap mereka pasti juga berbeda-beda. Akan ada yang pautan hatimu lebih dan ada pula yang kurang, mungkin juga ada yang sangat kurang engkau minati.

Wahai suamiku! Seandainya hal ini terjadi, apa sikapmu? Engkau tentu tidak mampu untuk memaksa hatimu minat pada sesuatu yang engkau tidak minati. Sebab gerak dan riak hatimu bukan engkau yang tentukan. Dan engkau tidak berdosa karena itu. Tapi menunjukkan riak tidak suka pada istri adalah satu hal yang berbahaya. Rumah tangga dapat terancam dan engkau akan hilang bahagia. Sebab seorang istri yang tidak dipedulikan suami, padahal madu-madunya begitu dimanjanya, akan menanggung derita batin yang berat. Dia dapat hilang pertimbangan dan akan melakukan hal-hal yang sangat memalukan suaminya. Apa yang ada di dalam hatinya waktu itu adalah engkau kejam. Tegakah engkau mengecewakan harapannya dan keinginannya untuk mendapatkan apa yang istri lain dapat? Kalau engkau dalam keadaan dia, tentu engkau juga tidak akan sanggup. Habis, mengapa engkau minta dia melakukan apa yang engkau juga tidak sanggup menanggungnya?

Seandainya engkau membiarkan keadaan ini berlarutan sehingga istrimu tidak mau memaafkanmu dan tidak redha dengan haknya yang engkau berikan pada istri lain, ketahuilah bahwa tidak lama lagi engkau akan ditangkap dan dipenjara, bukan penjara dunia tapi penjara akhirat. Azabnya maha dahsyat, di mana waktu itu engkau akan mengeluh,”Kalau aku tahu beginilah akhirnya, lebih baik aku memaksa diri untuk bersikap adil kepada semua istriku”.

Wahai suamiku! Sebelum semua itu terjadi, apakah langkah yang harus diambil untuk menghindarkan terjadinya kemungkinan tersebut. Syarat terpenting ialah, wanita yang akan engkau nikahi itu biarlah wanita yang sudah terdidik dengan iman dan taqwa. Wanita mukminah atau sholehah, yang hatinya tidak bergantung dengan suami tapi dengan Allah. Wanita yang waktu engkau tidak di sisinya, dia tidak merasa sendirian, sebab dia merasa Tuhan ada bersamanya. Yang masalah hidupnya tidak diadukan kepadamu karena mau menjaga hatimu. Tapi diadukannya kepada Allah, atau coba diselesaikannya sendiri dengan sedikit meminta pertolonganmu. Yang jika engkau berbuat salah padanya, dirasanya itu adalah hukuman atas dosanya, sebab itu dia tidak pernah memberontak denganmu, tapi akan redha dan memaafkanmu.

Wanita yang seandainya dia tahu suaminya tidak sayang padanya, lalu dia bersungguh-sungguh untuk mencari kasih sayang Allah. Dalam keadaan itu dia redha karena engkau melebihkan istri yang lain, untuk mengharapkan syurga dan kasih sayang Allah serta pengampunan dosa-dosanya. “Biar aku susah di dunia daripada susah di akhirat”. Itulah bisikan hatinya. Lantaran itu dia sanggup mendoakan kebahagiaan untukmu bersama istri yang lain.

Wahai suamiku! Wanita itulah yang harus menjadi calon istri kedua, ketiga, atau keempatmu. Hanya dia yang dapat untuk tidak biadab denganmu karena takutnya dengan neraka. Hanya dia yang mampu untuk tidak bertanya kepada engkau, ”Pergi ke mana? Kapan pulang? Mana duit? Kenapa lambat?”. Sebab dia tidak mau menyusahkanmu dan mengawasi gerak-gerikmu, sekalipun dia ditinggalkan, dan hatinya sedih, tetapi dia lebih tidak mau engkau bersedih, karena sayangnya padamu. Dia korbankan dirinya untukmu. Sekali-kali dia tidak akan katakan padamu,”Tidak adil!”. Karena dia merasa cukup dengan Tuhannya dan meredhai haknya untukmu yang kemudian Allah turut memaafkanmu.

Itulah wanita yang dapat mensukseskan pernikahanmu, wanita sholehah yang dalam hatinya ada iman dan taqwa. Dan mereka meremehkan dunia karena keyakinannya dan harapannya pada Syurga……

****

Ditulis dalam Memo | Tidak ada komentar »

Karena KasihMu Tuhan

Ditulis oleh majalahkawansejati di/pada Februari 22, 2008

Bu Murni terduduk. Gagang telepon diletakkan perlahan sebelum dia menutup wajah dengan kedua tangannya dan menangis terisak-isak. “Ya Allah.. Ya Allah..” Itu saja perkataan yang mampu diucapkannya.

Ini bukan pertama kalinya air matanya jatuh dalam dua minggu ini. Belakangan ini, dia menerima berbagai berita buruk yang cukup menusuk perasaannya. Hari ini bagaikan berhenti detak jantungnya saat diberi tahu bahwa modal usahanya sebanyak 250 juta rupiah hilang begitu saja, dibawa kabur orang yang sangat dipercayainya. Tidak ada lagi yang mampu dilakukan Bu Murni selain menangis.

“Tuhan, hamba-Mu ini sudah tidak berdaya. Tidak sanggup lagi untuk berhadapan dengan semua cobaan-Mu ini. Tolonglah aku..” rintihnya dalam isak tangis yang panjang.

Kepalanya berdenyut-denyut mengingat hutang yang terpaksa ditanggung akibat dari kerugian bisnisnya. Minggu lalu, anaknya Salina menghubunginya untuk mengabari tentang pemecatan dirinya dari jabatan Direktur Utama PT Rampai - Padang. Baginya tidak apa-apa kehilangan satu jabatan penting, tetapi ada faktor lain yang cukup memedihkan hatinya berkaitan dengan pemecatannya itu.

“Mama yang dirikan Perusahaan. Seharusnya mama jangan mudah menyerah kalah begitu saja. Kita harus lawan. Tuntut hak kita,” bujuk Salina dalam telepon semalam.

Bagi Bu Murni, apa yang terjadi ibarat ditelan, mati ibu, dimuntahkan, mati bapak. Yang memecatnya dari perusahaan PT. Rampai pun bukan orang lain, tetapi menantunya sendiri. Perusahaan yang asalnya didirikan sebagai satu proyek keluarga, kini menjadi rebutan anak-anak, setelah melihat kemajuan PT. Rampai yang meningkat pesat. Perusahaan itu mengeluarkan produk obat herba tradisional. Berkat kerja keras dan promosi yang semakin meluas, produk hasil Perusahaan itu mendapat sambutan hangat oleh masyarakat. Bu Murni, yang asalnya dipilih oleh anak-anak untuk menjabat sebagai Direktur Utama, dapat menarik nafas lega melihat perkembangan bisnis keluarganya itu.

Bagaimana pun langit tidak selalu cerah, Tuhan mentakdirkan suatu ujian yang pahit kepadanya. Semuanya berawal di saat salah seorang anak dan menantunya sendiri mulai tertarik mencari jalan singkat untuk mendapatkan untung besar. Anak bungsunya, Zila dan menantunya Fuad, yang merupakan salah satu anggota kepengurusan, telah didatangi oleh seorang wakil dari perusahaan milik orang berketurunan Cina. Mereka menawarkan harga yang tinggi untuk membeli hak milik produk obat herba tradisional produksi perusahaan PT. Rampai. Lantaran tergiur dengan uang rupiah yang banyak itu, Zila dan suaminya Fuad, berencana hendak menjual hak milik produk obat herba tersebut. Sedangkan perusahaan itu bukan hak pribadi mereka melainkan milik keluarga dan masing-masing anggota keluarga memiliki saham di perusahaan tersebut. Bu Murni tidak setuju dengan tawaran itu karena tidak ingin bisnisnya dihancurkan oleh orang lain suatu hari nanti. Begitu juga dengan Salina.

Namun, siapa dapat menghalang bila keinginan nafsu begitu besar hingga mengalahkan pertimbangan akal dan perasaan. Demi memenuhi kehendak nafsunya, Zila dan Fuad memecat Bu Murni dan Salina dari keanggotaan kepengurusan senior perusahaan.

Hati Bu Murni amat tersayat dengan sikap anak menantunya itu. Namun sebagai ibu, dia lebih mementingkan kasih sayang dan kerukunan keluarga daripada berebut uang rupiah dengan anak-anaknya. Berbeda dengan Salina yang tidak dapat menerima tindakan Zila terhadap ibu mereka. Salina bukan kesal karena harta, tetapi dia geram karena Fuad yang dianggapnya tidak tahu diri. Dia tahu, selama ini Zila hanya mengikuti perintah Fuad.

“Biarlah Ina, doakan saja mereka itu insaf. Mama tidak ingin kalian sesama saudara ini bertengkar,” bujuk Bu Murni di waktu Salina meledakkan kemarahannya semalam.

“Zila tidak bisa melihat Mama seperti ini. Semua resep produk Perusahaan PT. Rampai ini dari Mama. Mama yang berhak ambil alih perusahaan itu.”

“Mama tidak mempersoalkannya. Insya Allah, selagi hidup, rizki akan terus ada dari Tuhan.”

Kesedihan Bu Murni tidak terhenti di situ saja. Sewaktu terjadi pergolakan di dalam perusahaan PT Rampai ini, Bu Murni telah merancang persiapan untuk menjalankan perniagaan sendiri. Setelah bertemu dengan rekan bisnis yang dirasa mampu mengurus perdagangannya dengan baik, Bu Murni telah mengeluarkan semua uang simpanannya sebanyak 250 juta rupiah sebagai modal awal. Dia berencana mengeluarkan lagi suatu produk tradisional yang resepnya belum jatuh ke tangan Zila dan Fuad.

Setelah mengadakan pembicaraan antara Bu Murni dan rekan bisnisnya itu, Bu Murni cukup yakin bahwa masa depannya akan tetap cerah di dalam dunia perdagangan. Seberapapun besarnya keyakinan yang dia miliki, pada akhirnya Allah mengkehendaki dia ditipu dalam usaha kerjasamanya itu. Rekan bisnisnya itu menghilang setelah 250 juta rupiah berpindah tangan. Hampir pingsan Bu Murni mengetahui berita itu. Untuk sesaat, dunia dirasakannya begitu sempit.

Bu Murni memang tidak memiliki tempat mengadu. Suami telah lama meninggalkannya setelah menikah lagi. Dia tidak sanggup membagi rasa sedihnya itu pada Salina, karena Salina telah berkeluarga. Meskipun dia sering menasehati Salina agar terus bersabar menghadapi setiap ujian yang menimpa, padahal dia sendiri hampir jatuh menahan ujian yang datang padanya. Hanya pengaduannya pada Tuhan saja yang mampu menenangkan sedikit perasaannya. Namun adakalanya dia merasa tidak mampu meneruskan hidupnya.

Hari itu ketika dalam penerbangan pulang ke Jakarta dari Padang, Allah mempertemukan Bu Murni dengan Sharifah. Sekitar 1 jam di dalam pesawat, memberi kesempatan untuk mereka berkenalan. Wajah bersih dan tutur lembut Sharifah seolah-olah magnet yang menarik seluruh perhatian Bu Murni kepadanya. Entah mengapa, Bu Murni yang selama ini lebih suka menyimpan rahasia peribadinya sendiri, begitu mudah mengeluarkan seluruh isi hatinya.

“Beruntunglah Ibu. Besarnya perhatian Allah pada Ibu. Begitu sayangnya Allah pada Ibu,” kata Sharifah sambil tersenyum manis.

“Saya sudah kehilangan segala-galanya. Suami sudah tidak peduli, anak menjadi musuh, bisnis hancur, Syarifah masih mengatakan saya beruntung?” Tanya Bu Murni dengan senyum yang tawar.

“Allah itu kalau Dia sayang seseorang, akan ‘disusah-susahkan-Nya’ orang itu. Mungkin dengan cara dijadikannya orang lain senang menyakiti hati orang itu, atau mengganggu kehidupannya, merusakkan bisnisnya…”

Bu Murni memandang Sharifah dengan kening berkerut, “ Maksudnya bagaimana?”

Sharifah tersenyum lagi mendengar pertanyaan dari Bu Murni. Iba rasa hatinya melihat seorang insan di depannya itu yang terlunta-lunta, belum tampak jalan keluar dari kemelut permasalahannya itu.

“Bu, disaat hamba itu ‘disusah-susahkan’ oleh Allah, tentu dia akan mencari Allah untuk mengadu dan minta pertolongan. Sebenarnya Allah sangat suka mendengar hamba-hamba-Nya merintih, menghiba-hiba dan menangis meminta pertolongan kepada-Nya.”

“Tapi saya rasa ujian ini terlalu berat. Kadang-kadang saya bertanya kepada Tuhan. Kenapa aku yang Engkau pilih, Tuhan? Kenapa bukan orang lain?” Air mata Bu Murni mulai mengalir di pipinya.

“Jangan putus asa. Jangan buruk sangka dengan Allah. Mintalah bantuan dari-Nya, Dia pasti membantu.”

“Memang saya selalu bangun untuk tahajjud. Meminta Allah selesaikan masalah saya. Tapi sejauh ini, masalah saya masih buntu. Rasanya seperti Allah tidak mendengar doa saya,” keluh Bu Murni sambil mengusap air matanya.

“Mungkin apa yang ibu minta pada Allah, bukan yang Allah mau. Mungkin ibu hanya mau segalanya kembali seperti pada awalnya. Keluarga yang harmonis dan keberhasilan dalam berbisnis, bukankah begitu?”

“Ya, memang itu yang saya minta kepada Allah. Salahkah permintaan saya itu?”

Sharifah diam tidak menjawab. Dia membiarkan Bu Murni dengan perasaannya.

“Ujian yang Allah beri kepada manusia sebenarnya untuk memaksa manusia muhasabah. Supaya manusia mencari kesalahannya sendiri. Mungkin ada sesuatu pada kita yang Allah tidak suka. Oleh sebab itu, Allah tarik apa yang ada pada kita. Allah ingin bersihkan dosa kita di dunia, supaya di akhirat kita selamat.”

“Dalam hal ini saya tidak bersalah. Mereka yang menzalimi saya. Tapi mengapa saya yang harus menerima akibatnya?” tukas Bu Murni yang kurang puas hatinya.

“Tentang orang yang menzalimi kita, tidak usah kita pikirkan. Allah ada cara-Nya sendiri untuk ‘memproses’ mereka juga. Yang penting, kita harus anggap, karena dosa kitalah Allah datangkan segala macam ujian, kesusahan dan kesakitan. Allah berhak mengatur hidup kita dan Maha Suci Allah dari menzalimi.”

Untuk beberapa saat Bu Murni terdiam.

“Mungkin betul kata Bu Sharifah. Saya tidak mulai semenjak masih muda dan baru di tingkat umur inilah saya rasa dekat dengan Allah. Sedangkan dulu…. “ Bu Murni menelan ludah.

“Itulah sebenarnya dosa kita. Sudah lama kita tidak mempedulikan Allah. Sedangkan Allah setiap hari mengurus keperluan kita, mangaruniakan rezeki, memberi kesehatan, ilmu, dan masih banyak lagi.Dia tidak pernah lupa kepada kita. Tapi kita sering melupakan Allah,” kata Sharifah lembut.

Bu Murni tersentak. Betul juga, pikirnya. Di waktu senang dulu, dia tidak pernah berpikir untuk bersyukur kepada Allah. Memanglah mulutnya berkata Alhamdulillah, tapi mana bukti syukurnya? Dia pun tidak menggunakan segala kesenangan yang diperolehinya itu untuk berbagi dengan makhluk Tuhan yang lain. Semua digunakan untuk kesenangan diri dan keluarga semata-mata. Ketika ada kelebihan, disimpan untuk kepentingan dirinya sendiri juga.

“Tanyalah pada diri kita, adakah kita semakin khusyuk beribadah kepada-Nya ketika semakin banyak nikmat Allah yang kita terima?” kata Bu Syarifah lagi. Bu Murni tersentak lagi. Dia teringat ketika mengurus perusahaannya dulu, sholatnya pun seperti ayam mematuk padi. Kadang-kadang karena sibuk menjalankan perniagaannya, sholatnya pun tertinggal.

“Oh Tuhan, memang benarlah aku berdosa pada-Mu,” rintih hati Bu Murni.

“Kita berdosa karena tidak pedulikan Tuhan. Padahal kita telah berjanji pada Tuhan di alam roh dulu, bahwa kita akan menjadi hamba-Nya yang senantiasa beribadah kepada-Nya. Kita juga berjanji untuk menjadi khalifah-Nya yakni menunaikan segala amanah yang dipikulkan kepada kita di dunia ini.”

Bu Murni kini tersadar. Ternyata dia telah begitu jauh dari Tuhan. Hidupnya penuh kelalaian. Pantaslah Tuhan susahkan hidupnya lantaran dosa yang begitu banyak.

“Sebab itu saya bilang Ibu ini beruntung. Karena di dunia Allah sudah menghukum Ibu, dengan tujuan agar Ibu sadar dan bertaubat,” kata Sharifah lagi.

Bu Murni mengangguk-angguk. Kini dia mulai mengerti hikmah di balik ujian yang menimpanya. Dia merasa bersyukur kepada Allah karena telah menyadarkan dirinya dari kelalaian selama ini. Seandainya Allah biarkan dia dalam kemewahan dan mensukseskan perniagaannya, belum tentu dia akan ingat kepada Allah.

Saat pesawat hampir tiba dan mendarat di Jakarta, Bu murni sempat bertukar kartu nama dengan Sharifah. Sewaktu bersalaman, Bu Murni memeluk Sharifah. “Terima kasih atas segala nasihat Sharifah tadi,” kata Bu Murni.

Ketika turun dari pesawat, Bu Murni merasakan dadanya lapang. Ibarat orang yang sakit sesak nafas di berikan oksigen. “Ya Allah, semoga aku mampu menjadi hamba yang paham setiap maksud takdir-Mu kepadaku. Semoga aku bukan lagi hamba yang selalu buruk sangka kepada-Mu. Ampunkan aku karena biadabnya aku pada-Mu selama ini hingga aku menyalahkan-Mu di setiap ujian yang menimpaku. Ampunkan aku wahai Tuhan,” bisik Bu Murni penuh syahdu.

Sebulan kemudian, Sharifah mendapat telepon dari Bu Murni. Rupanya setelah dia bertaubat dan mendekatkan diri kepada Allah, anak dan menantunya tiba-tiba saja berubah hati dan menyesal dengan perbuatan mereka. Mereka telah bertemu Bu Murni dan meminta maaf serta mengajaknya untuk bersama kembali dengan PT. Rampai di Padang.

Ditulis dalam Cerpen | Tidak ada komentar »